ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Hari
:….. Pukul :….. Ruang:……
Oleh:
Kelompok : 08
1.
Nama : Renda Puji
Lesari Nim : 140810301058
2. Nama
: Nidewia Maulida Nim : 140810301149
3. Nama
: Admina Dowansiba Nim : 140810301249
UNIT PELAKSANA
TEKNIS
BIDANG STUDI
MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS
JEMBER
SEMESTER
GANJIL 2014 - 2015
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga, makalah yang
bertemakan Manusia dan Lingkungan ini dapat diselesaikan dengan baik.
Selanjutnya penulis sampaikan shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada
Nabi besar Muhammad SAW, pada keluarganya, sahabatnya, dan kita sebagai
umatnya.
Makalah ini bertemakan tentang
“Manusia dan Lingkungan” secara khusus mendeskripsikan tentang hakikat manusia
sebagai subjek dan objek lingkungan, pandangan
manusia terhadap lingkungan, pengaruh timbal balik antara kondisi
lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya, masalah demografi dan pertumbuhan
penduduk di Indonesia, kuantitas dan kualitas penduduk serta problematika
pembangunan. Makalah ini disusun sebagai tugas dari mata kuliah Ilmu Sosial
Budaya Dasar sebagai pengetahuan untuk kita semua dan sebagai langkah untuk
menyadari betapa eratnya hubungan antara manusia dan lingkungan.
Ucapan terimakasih kami (kelompok 8)
sampaikan kepada dosen mata kuliah ISBD yang telah banyak memberikan petunjuk
dalam pembuatan makalah ini, Selanjutnya kepada orang tua dan teman-teman yang
telah memberikan dukungan materil maupun moril.
Kami menyadari bahwasanya makalah
ini masih jauh dari sempurna, tetapi mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat
bagi penulis dalam mencari ilmu dan untuk para pembaca semua dalam menambah
pengetahuan. Untuk itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang sifatnya membangun guna menyempurnakan makalah ini.
Jember, September 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
|
Halaman Judul
..........................................................................................
|
|
|
Kata Pengantar .........................................................................................
|
i
|
|
Daftar Isi
....................................................................................................
|
ii
|
|
BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................
|
1
|
|
1.1
Latar Belakang
.......................................................................
|
1
|
|
1.2
Rumusan Masalah
..................................................................
|
2
|
|
1.3
Tujuan Penulisan
....................................................................
|
2
|
|
BAB II. PEMBAHASAN
..........................................................................
|
3
|
|
2.1 Hakekat Manusia sebagai Obyek
dan Subyek Lingkunga...
|
3
|
|
2.2 Manusia, Lingkungan Alam dan Lingkungan Sosial Budaya
..........................................................................
2.3 Pengaruh
Timbal Balik Antara Kondisi Lingkungan Alam dan Lingkungan Sosial Budaya
......................................
2.4 Pengertian Demografi dan Problematika dalam
Meningkatkan Kesejahteraan Hidup Manusia .................
2.5 Pertambahan dan Pertumbuahan Penduduk Indonesia......
2.6 Analisis Dampak Lingkungan dan
Analisis Resiko Lingkungan
.....................................................................
|
3
4
8
10
12
|
|
BAB
III. PENUTUP
........................................................................
|
13
|
|
3.1 Kesimpulan ....................................................................
32. Saran
............................................................................
|
13
13
|
|
Daftar
Pustaka .. ....................................................................................
|
|
1.1
Latar
Belakang
Kehidupan
manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam
maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan
sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan. Manusia hidup Pasti mempunyai hubungan
dengan lingkungan. Secara almiah manusia pasti berinteraksi dengan
lingkungannya. Perlaukan manusia terhadap lingkungan sangat menentukan
keramahan lingkungan terhadap kehidupanya sendiri. Manusia bisa memanfaatkan
lingkungan namun manusia sendiri juga harus sadar agar selalu memelihara
lingkungan juga sehingga tingkat kemanfaatnya tetap terjaga bahkan bisa di
tingkatkan lagi. Bagaimana manusia
menyikapi dan mengelola lingkungan yang pada akhirnyaakan mewujudkan pola-pola
peradaban dan kebudayaan.
Lingkungan
hidup tidak bisa dipisahkan dari ekosistem. Lingkungan hidup pada dasarnya
adalah suatu sistim kehidupan tatanan ekosistem, dan manusia adalah bagian dari
ekositem tersebut. Lingkungan dapat pula berbentuk lingkungan fisik dan non
fisik. Lingkungan amat penting bagi kehidupan manusia. Segala yang ada pada
lingkungan dapat di manfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebuutuhan manusia,
karena lingkungan memiliki daya dukung, yaitu kemampuan lingkungan untuk
mendukungkehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya arti penting lingkunagan
bagi manusia karena lingkungan merupakan tempat hidup manusia, lingkungan
memberi sumber sumber penghidupan manusia, lingkungan mempengaruhi sifat,
karakter, dan perilaku manusia yang mendiaminya.
Karena manusia memiliki hubungan yang erat dengan lingkungannya seperti
yang dijelaskan sebelumnya. maka menjadi menarik jika kita bisa membahas
hubungan manusia dan lingkungan. Untuk itu, Kami penulis mencoba menuangkan ide
pemikiran tersebut kedalam makalah yang berjudul “Manusia dan Lingkungan”.
1.2
Rumusan
Masalah
Setiap
pembuatan karya ilmiah pasti berangkat dari suatu masalah, masalah ini
mendorong manusia untuk segera memecahkannya, maka penulisan karya ilmiah
merupakan salah satu cara yang dipakai. Suatu masalah hendaknya dirumuskan
dengan baik, sebab dalam rumusan masalah memuat latar belakang suatu masalah
yang akan diteliti.
Berdasarkan
uraian latar belakang yang penulis kemukakan diatas, maka dalam penulisan karya
ilmiah ini peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa
hakekat manusia sebagai obyek dan subyek lingkungan ?
2. Apa
hubungan manusia, lingkungan alam dan lingkungan sosial budaya ?
3. Bagai
mana pengaruh timbal balik antara kondisi lingkungan alam dan lingkungan social
budaya
4. Apa
yang dimaksud dengan demografi dan problematikanya dalam meningkatkan
kesejahteraan hidup manusia ?
5. Apa
pengaruh pertambahan dan pertumbuhan penduduk Indonesia terhadap lingkungan ?
6. Bagaimana
analisis dampak lingkungan dan analisis resiko lingkungan ?
1.3
Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah yang penulis kemukakan diatas, adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca (mahasiswa) memahami akan perannya dalam
pembangunan dan pemeliharaan lingkungan, bagaimana pengaruh lingkungan terhadap
diri dan orang lain, serta bagaimana apabila manusia mengembangkan lingkungan
tanpa dilandasi oleh nilai-nilai moral, etika dan religi.
BAB
2. PEMBAHASAN
MANUSIA
DAN LINGUNGAN
2.1
Hakekat Manusia sebagai Obyek dan Subyek Lingkungan
Hakekat manusia sebagai subjek lingkungan adalah makhluk yang berperan
untuk mengelola dan merawat lingkungan. Makhluk yang memiliki tenaga yang dapat
menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Individu yang
memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual
dan sosial. Individu yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif
mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya. Individu
yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan
dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk
ditempati.
Hakekat
manusia sebagai objek lingkungan adalah makhluk yang dalam proses menjadi
berkembang dan terus berkembang yang tidak akan pernah selesai (tuntas) selama
hidupnya. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung
kemungkinan baik dan jahat. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan
terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan
martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
Atas
dasar itu disimpulkan bahwa dengan lingkungan yang baiklah manusia dapat
mengembangkan dan mencapai hidupnya secara baik. Demikian pula dengan kualitas
yang memadai yang mereka miliki, manusia akan mengembangkan lingkungan hidupnya
secara baik pula.[1]
2.2. Manusia,
Lingkungan Alam dan Lingkungan Sosial Budaya
Manusia adalah mahluk hidup ciptaan
Tuhan dengan segala fungsi dan potensinya yang tunduk kepada aturan hukum alam,
mengalami kelahiran, pertumbuhan perkembangan, mati, dan seterusnya, serta
terikat dan berinteraksi dengan alam dan lingkungan sosial budayanya dalam
sebuah hubungan timbal balik baik itu positif maupun negatif.
Lingkungan
adalah suatu media dimana mahluk hidup tinggal, mencari penghidupannya dan
memiliki karakter serta fungsi yang khas dimana terkait secara timbal balik
dengan kesadaran mahluk hidup yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan
riil.
Manusia
hidup, tumbuh dan berkembang dalam lingkungan alam dan lingkungan sosial
budayanya. Dalam lingkungan alam manusia hidup dalam sebuah ekosistem, yakni
suatu unit atau satuan fungsional dari mahluk-mahluk hidup dengan
lingkungannya.[2]
Dengan
kemampuan yang dimilikinya, manusia tidak hanya dapat menyesuaikan diri.
Manusia juga dapat memanfaatkan potensi lingkungan untuk lebih mengembangkan
kualitas kehidupannya. Bagi manusia, selain sebagai tempat tinggalnya,
lingkungan hidup juga dapat dimanfaatkan sebagai :
1.
Media penghasil bahan kebutuhan
pokok (sandang, pangan, dan papan).
2.
Wahana bersosialisasi dan
berinteraksi dengan makhluk hidup atau manusia lainnya.
3.
Sumber energy.
4.
Sumber bahan mineral yang dapat
dimanfaatkan untuk mendukung kelangsungan hidup manusia.
5.
Media ekosistem dan pelestarian
flora dan fauna serta sumber alam lain yang dapat dilindungi untuk
dilestarikan.
2.3 Pengaruh
Timbal Balik Antara Kondisi Lingkungan Alam dan Lingkungan Sosial Budaya
2.3.1 Pengaruh Timbal Balik Antara Manusia dan
Lingkungan Alam
Manusia
sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dengan alam lingkungannya. Manusia
memandang alam lingkungannya dengan bermacam-macam kebutuhan dan keinginan.
Manusia bergulat dan bersaing dengan spesies lainnya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan memanfaatkan sumber alam yang ada di lingkungan hidupnya.
Sumber alam dapat digolongkan kedalam dua bagian, yakni:
-
Sumber alam yang dapat diperbarui
(renewble resources) atau disebut
pula sumber-sumber alam biotik. Yang tergolong ke dalam sumber alam ini adalah
semua mahluk hidup, hutan, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
-
Sumber alam yang tidak dapat
diperbarui (nonrenewble resourches)
atau disebut pula sebagai golongan sumber alam abiotik. Yang tergolong ke dalam
sumber alam abiotik adalah tanah, air, bahan-bahan galian, mineral, dan
bahan-bahan tambang lainnya.
Manusia
memandang alam lingkungannya dengan bermacam-macam kebutuhan dan keinginan.
Dalam hal ini manusia memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan organisme
lainnya terutama pada penggunaan sumber-sumber alamnya seperti pertanian dan
tanah, hutan, air, serta bahan tambang.
Perubahan
alam lingkungan hidup manusia akan berpengaruh baik secara positif maupun
negatif. Berpengaruh baik bagi hidup dan kehidupan manusia karena manusia
mendapatkan keuntungan dari perubahan tersebut, dan berpengaruh tidak baik
karena dapat mengurangi kemampuan alam lingkungan hidupnya untuk menyokong
kehidupannya. Dengan kata lain ada hubungan interdepedensi (ketergantungan)yang
saling mempengaruhi secara timbal balik antara manusia dan kondisi lingkungan
alam.
Dalam
memanfaatkan alam, manusia terkadang tidak memerhatikan dampak yang akan
ditimbulkan. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan yang dipengaruhi oleh
aktivitas manusia, antara lain, meliputi hal-hal berikut ini :
a.
Pencemaran Lingkungan
Pencemaran
disebut juga dengan polusi, terjadi karena masuknya bahan-bahan pencemar
(polutan) yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Bahan-bahan pencemar
tersebut pada umumnya merupakan efek samping dari aktivitas manusia dalam
pembangunan. Berdasarkan jenisnya, pencemaran dapat dibagi menjadi empat :
1.
Pencemaran udara
Disebabkan
oleh asap sisa hasil pembakaran, khususnya bahan bakar fosil (minyak dan batu
bara) yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, dan
mesin-mesin pesawat terbang atau roket. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran
udara, antara lain, berkurangnya kadar oksigen (O2) di udara, menipisnya lapisan
ozon (O3), dan bila bersenyawa dengan air hujan akan menimbulkan hujan asam
yang dapat merusak dan mencemari air, tanah, atau tumbuhan.
2.
Pencemaran tanah
Disebabkan
karena sampah plastik ataupun sampah anorganik lain yang tidak dapat diuraikan
di dalam tanah. Pencemaran tanah juga dapat disebabkan oleh penggunaan pupuk
atau obat-obatan kimia yang digunakan secara berlebihan dalam pertanian,
sehingga tanah kelebihan zat-zat tertentu yang justru dapat menjadi racun bagi
tanaman. Dampaknya adalah semakin berkurangnya tingkat kesuburan tanah sehingga
lambat laun tanah tersebut akan menjadi tanah kritis yang tidak dapat diolah
atau dimanfaatkan.
3.
Pencemaran air
Terjadi karena masuknya zat-zat
polutan yang tidak dapat diuraikan dalam air, seperti deterjen, pestisida,
minyak, dan berbagai bahan kimia lainnya, selain itu, tersumbatnya aliran
sungai oleh tumpukan sampah juga dapat menimbulkan polusi atau pencemaran.
Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran air adalah rusaknya ekosistem perairan,
seperti sungai, danau atau waduk, tercemarnya air tanah, air permukaan, dan air
laut.
4.
Pencemaran suara
Tingkat kebisingan yang sangat
mengganggu kehidupan manusia. Pencemaran suara dapat ditimbulkan dari suara
kendaraan bermotor, mesin kereta api, mesin jet pesawat, mesin-mesin pabrik,
dan instrumen musik. Dampak pencemaran suara menimbulkan efek psikologis dan
kesehatan bagi manusia, antara lain, meningkatkan detak jantung, penurunan
pendengaran karena kebisingan (noise
induced hearing damaged), susah tidur, meningkatkan tekanan darah, dan
dapat menimbulkan stres.
b.
Degradasi Lahan
Degradasi
lahan adalah proses berkurangnya daya dukung lahan terhadap kehidupan.
Degradasi lahan merupakan bentuk kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan
lingkungan oleh manusia yang tidak memerhatikan keseimbangan lingkungan. Bentuk
degradasi lahan :
1.
Lahan kritis dapat terjadi karena
praktik ladang berpindah ataupun karena eksploitasi penambangan yang
besar-besaran.
2.
Rusaknya ekosistem laut terjadi
karena bentuk eksploitasi hasil-hasil laut secara besar-besaran, misalnya
menangkap ikan dengan menggunakan jala pukat, penggunaan bom, atau menggunakan
racun untuk menangkap ikan atau terumbu karang. Rusaknya terumbu karang berarti
rusaknya habitat ikan, sehingga kekayaan ikan dan hewan laut lain di suatu
daerah dapat berkurang.
3.
Kerusakan hutan pada umumnya terjadi
karena ulah manusia, antara lain, karena penebangan pohon secara besar-besaran,
kebakaran hutan, dan praktik peladangan berpindah. Kerugian yang ditimbulkan
dari kerusakan hutan, misalnya punahnya habitat hewan dan tumbuhan, keringnya
mata air, serta dapat menimbulkan bahaya banjir dan tanah longsor.
2.3.1 Pengaruh Timbal Balik Antara Manusia dan
Lingkungan Sosial Budaya.
Keserdasan
manusia sebagai mahluk yang ada di alam ini ternyata mengalami evolusi dan juga
perkembangan. Evolusi terjadi dalam pengertian perubahan sebagai kelompok
manusia, baik dalam kelompok masyarakat tertentu, maupun manusia secara
keseluruhan. Sedangkan perkembangan kecerdasan dimaksudkan adalah proses
kecerdasan yang terjadi pada setiap manusia secara individual. Ternyata evolusi
dan perkembangan kecerdasan ini erat kaitannya dengan hubungan manusia
(stimulus maupun respons) terhadap lingkungan baik hubungannya dengan
lingkungan alam, lingkungan budaya, maupun lingkungan sosial. Kecerdasan
manusia dalam mengolah lingkungnnya menentukan tingkat peradaban yang
dicapainya, jadi semakin cerdas manusia maka akan semakin maju peradabannya.
Lingkungan
sosial yaitu merupakan lingkungan masyarakat dimana terjadi interaksi antara
individu yang satu dengan yang lainnya. Kondisi masyarakat ini akan memberikan
pengaruh terhadap perkembangan individu. Lingkungan sosial dapat dibedakan:
1.
Lingkungan sosial primer
Lingkungan
sosial primer adalah lingkungan sosial dimana terdapat hubungan yang erat
antara anggota yang satu dengan anggota yang lain, antar anggota saling
mengenal dengan baik, dan memiliki hubungan yang erat. Sehingga pengaruh
lingkungan sosial primer ini akan lebih kuat.
2.
Lingkungan sosial sekunder
Lingkungan
sosial sekunder adalah lingkungan sosial dimana hubungan antara anggota yang
satu dengan anggota yang lain agak longgar. Pada umumnya antar anggota kurang
atau tidak saling kenal dengan baik. Karena itu pengaruh lingkungan sosial
sekunder ini tidak kuat.
2.4 Pengertian Demografi dan Problematika
dalam Meningkatkan Kesejahteraan
Hidup Manusia
Dalam
arti luas penduduk atau populasi adalah sejumlah mahluk sejenis yang mendiami
atau menduduki suatu temapt tertentu. Mempelajari penduduk pada hakikatnya mengadakan
pendekatan terhadap tiga sudut pandangan, yaitu:
1.
Untuk memperoleh data penduduk
yang nyata;
2.
Untuk memperoleh penafsiran
tabiat sosial;
3.
Untuk melakukan aksi sosial,
yaitu mengetahui secara komprehensif dengan mengkombinasikan ketiga segi
tersebut.
Adapun
ilmu yang mempelajari masalah penduduk adalah demografi. Demografi berasal dari
kata demos yang berarti rakyat; dan graphein yang artinya menguraikan atau
menceritakan (yang hanya terbatas pada fakta dan pengumpulan data).[3]
Jadi demografi adalah ilmu yang mempelajari
secara statistik dan mathematik tentang besar komposisi dan distribusi penduduk
dan perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui kelahiran (fertalitas),
kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
Didalam
teori kependudukan digunakan untuk menerangkan data, meramal data masa sekarang
dan masa lampau. Ada dua sudut pandang dalam teori kependudukan ini, yaitu dari
segi sosial dan segi naturalistik.
Sudut
pandang dari segi sosial dimulai oleh Thomas Robert Maltus dari Inggris
(1766-1804), yang menyatakan bahwa “kemeralatan disebabkan oleh tidak adanya
keseimbangan antara pertambahan penduduk dengan pertambahan pangan adalah:
1.
Bahan makanan dibutuhkan untuk
hidup;
2.
Nafsu antara pria dan wanita
dibutuhkan, dan tetap keadaanya seperti itu.
Apabila tidak ada hambatan, menurut Malthus penduduk
bertambah menurut deret ukur, dan bahan makanan bertambah menurut deret hitung.
Contoh pertambahan penduduk: 1-2-4-8-16-32-64; bahan makanan bertambah:
1-2-3-4-5-6 dan seterusnya.
Sedangkan
sudut pandang dari segi naturalistik menyatakan, bahwa pertumbuahan penduduk
ditentukan oleh bahan makanan yang tergantung pada lingkungan, sehingga dikenal
adanya teori ekonomi lingkungan, sperti:
a.
Teori Pearl: menyatakan bahwa manusia
itu tumbuh berdasarkan kurva norma, yaitu mula-mula sedikit, bertambah, menjadi
maksimum, dan akhirnya berkurang lagi.
b.
Teori Gini: menyatakan bahwa
penduduk berkembang cepat pada tingkat permulaan. Hal ini dipengaruhi oleh
hukum biologis.
c.
Teori Kapilaritas Sosial: yaitu
seperti gejala naiknya air atau minyak di dalam pembuluh sempit, seperti minyak
naik dalam sumbu kompor. Setiap orang cendrung untuk memperoleh status sosial
yang lebih tinggi. Untu tujuan itu mereka malah tidak suka memproduksi anak.
d.
Teori Transisi Demografi: teori
ini beranggapan bahwa perubahan penduduk terjadi sebagai akibat kondisi
sosial-ekonomi penduduk yang bersangkutan. Teori ini menyatakan bahwa setiap
masyarakat dimulai dengan fase angka kelahiran dan kematian tinggi, kemudian
disusul oleh fase keadaan angka kematian turun, sementara angka kelahiran tetap
tinggi, baru kemudian disusul oleh fase dimana angka kelahiran mulai turun
secara perlahansampai berada pada keadaan angka kelahiran dan kematian rendah.
2.5 Pertambahan dan Pertumbuahan
Penduduk Indonesia
Aneka
persoalan demografi di Indonesia adalah Tingginya jumlah penduduk,
pengangguran, penyebaran penduduk yang tidak merata dan lainnya.
Masalah demografi di Indonesia,
terpusatnya jumlah penduduk Indonesia di Pulau Jawa yang luasnya hanya 6,9
persen dari luas keseluruhan daratan negara Indonesia dengan penduduk lebih
dari 107 juta jiwa tinggal di daerah dengan luas sebesar New York. Dalam waktu
yang relatif singkat ini, populasi masyarakat Indonesia telah berlipat dua kali
lebih banyak yakni dari 97,02 juta jiwa hasil pada Sensus 1961, menjadi 201,242
juta jiwa pada Sensus 2000.
Selain masalah
terpusatnya jumlah penduduk Indonesia di Pulau Jawa, persoalan pengangguran memang menjadi problem yang belum tuntas hingga
sekarang. Berdasarkan
data Sensus Ketenagakerjaan Nasional (Sakemas) 2008, angka pengangguran
mencapai 9,43 juta jiwa atau 8,46 persen. Ironisnya setiap tahun terjadi
pertumbuhan angkatan kerja, yaitu ada 2,5 juta angkatan kerja baru dari lulusan
sekolah dan perguruan tinggi.
Penyebaran penduduk yang tidak
merata juga menjadi masalah. Di satu sisi, Pulau Jawa mengalami kepadatan yang
luar biasa, sedangkan di sisi lainnya banyak pulau yang penduduknya relatif
jarang. Jika dihitung kepadatan Pulau
Jawa pada Sensus Penduduk 2000 sudah sangat padat. Kepadatan di pulau Jawa
telah mencapai 870 jiwa per km persegi sedangkan di luar Pulau lawa
kepadatannya baru mencapai 47 jiwa per km persegi. Pada Sensus 1961 hingga 2000, penduduk Jawa mengalami penurunan dari 64,9
persen menjadi 59,3 persen. Namun penurunan ini tidaklah terlalu banyak dalam
rangka mendukung pemerataan pembangunan.
2.5.1
Pertumbuhan
Penduduk di Indonesia dan Permasalahannya
Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai
perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per
waktu unit" untuk pengukuran.
Pertumbuhan penduduk di suatu daerah/negara disebabkan
oleh faktor-faktor :
1.
Angka kelahiran (Natalitas)
2.
Angka kematian (Mortalitas)
3.
Migrasi masuk (imigrasi) yaitu masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan (area of destination)
4.
Migrasi keluar (emigrasi) yaitu
perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal (area of origin)
Permasalahan
pertumbuhan penduduk di Indonesia adalah rata-rata laju pertumbuhan penduduk di
Indonesia masih cukup tinggi. Indonesia harus mengerem laju pertumbuhan
penduduk. Saat ini laju pertumbuhan penduduk Indonesia yakni 2,6 juta jiwa per tahun.
Jika ini tidak diatasi, maka 10 tahun lagi Indonesia akan mengalami ledakan
penduduk.
Jika laju pertumbuhan penduduk meledak maka akan banyak memakan biaya
triliunan rupiah untuk biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Sehingga
target untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan ibu dan anak, pengurangan angka
kemiskinan, dan peningkatan pendapatan per kapitan sulit direalisasikan.
Dari sisi
kebutuhan pangan, setiap kenaikan jumlah penduduk akan menaikkan pula
ketersediaan pangan. Begitu juga energi, pertumbuhan penduduk akan menyedot energi besar, sementara ketersediaan energi makin menipis. Tak terkecuali masalah
papan atau perumahan yang harus disediakan dalam jumlah besar. Masalah ini
tentunya akan berujung pada naiknya tingkat pengangguran, kemiskinan, angka
kriminalitas, dll. Sebenarnya banyak sebab sehingga masalah ini bisa kian membesar. Faktor
utama dari pertumbuhan penduduk yang tinggi adalah karena tidak ada komitmen
pemerintah untuk membatasi pertumbuhan penduduk. Program Keluarga Berencana
(KB) yang pada periode 1970 sampai akhir 1990-an berhasil mengerem pertumbuhan
penduduk, tidak dilanjutkan. Pemerintah kurang begitu peduli pada pertumbuhan penduduk.
Sekarang
generasi baru yang tidak mengenal program KB, tak sedikit yang memiliki empat atau
lima anak. Bahkan, ada yang
mengkampanyekan secara terselubung agar memiliki anak banyak, terkait dengan
pepatah jaman dahulu bahwa ”banyak anak banyak rejeki” yang tentunya sudah
tidak sesuai dengan saat sekarang ini. Tak
heran kalau kondisi saat ini dalam beberapa kasus kembali ke tahun 1960-an,
yakni memiliki anak di atas lima orang. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah
dan lembaga terkait dan minimnya penyuluhan adalah penyebab masalah ini terus
berlanjut dan kian tidak terkendali.
Sebenarnya banyak cara untuk mengatasi masalah
ini. seperti transmigrasi, kembali menggalakkan program Keluarga Berencana
(KB), meningkatkan standar pendidikan
bangsa, serta melakukan pengawasan-pengawasan terkait masalah ini. Pertumbuhan
penduduk penting, tetapi dibatasi. Kita perlu sadar bahwa daya dukung sumber
daya alam terbatas, sehingga jika jumlah penduduk tidak terkendali akan menjadi
problem besar di masa depan. Prinsipnya. Pertumbuhan harus dibatasi, dan setiap
lapisan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini. Karena dengan pertumbuhan yang terkendali akan mempermudah pemerintah
mewujudkan masyarakat yang berkualitas dan sejahtera.
2.6 Analisis Dampak Lingkungan dan
Analisis Resiko Lingkungan
Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) telah dilindungi oleh payung hukum yaitu Peraturan
Pemerintah No. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan,
kemudian disusul dengan Peraturan mentri lingkungan Hidup. dilanjutkan
Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang usaha atau kegiatan yang
diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup. jadi telah
banyak payung hukum yang dapat menguatkan kegiatan AMDAL di Indonesia.
BAB 3.
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Manusia
tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Lingkungan bersifat mendukung atau
menyokong kehidupan manusia. Dengan kemampuan yang dimilikinya, manusia tidak
hanya dapat menyesuaikan diri. Manusia juga dapat memanfaatkan potensi
lingkungan untuk lebih mengembangkan kualitas kehidupannya. Manusia
mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya sehingga tercipta teknologi
yang memudahkan kehidupan manusia. Namun ternyata perkembangan teknologi
tesebut menimbulkan dampak negatif yang harus diminimalisirkan agar bumi ini
masih dapat diwariskan untuk anak cucu kita kelak.
Pertumbuhan
penduduk merupakan bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk di suatu daerah
atau negara dalam kurun waktu tertentu. Pertumbuhan penduduk ini akan
mempengaruhi lingkungan alam maupun sosial budaya, semakin padat penduduk pada
suatu daerah semakin beragam kebudayaan yang timbul dan semakin banyak tempat
tinggal yang dibutuhkan yang akan berakibat sempitnya lapangan pekerjaan.
Pertumbuhan penduduk di Negara kita masih termasuk tinggi, jika dibandingkan
dengan Negara lainnya. Untuk itu pemerintah mencanangkan program KB (Keluarga
Berencana) untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.
3.2
Saran
Manusia
perlu mengambil kebijakan-kebijakan terhadap lingkungan sebagai usaha untuk
memperoleh efisiensi pemanfaatan sumber alam dan lingkungan. Kita sebagai
manusia wajib menyadari bahwa kita saling terkait dengan lingkungan yang
mengitari kita.
Kemampuan
kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita
sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat
membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan.
Daftar Pustaka
Buku:
Suratman, et.al.
2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Malang: Intermedia.
Soelaiman,
Munandar. 1989. Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: PT. Eresco.
Internet:
Ridha Mardatilla.
2013. ISBD. Mansusia dan Lingkungan.
http://ridhamardhatillah94.blogspot.co.id/2013/08/isbd-manusia-dan- lingkungan_1785.html. diunduh pada tanggal 9 13 September
2015. Jam 18.30 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar